Suara yang menyesatkan
Oleh: Alfian Zidny
Ketika umurku 9 tahun aku sering menemukan pertanyaan dalam diriku, seperti: bagaimana jika aku mati sekarang? Itu terjadi begitu saja hingga aku tak bisa mengartikan semua kata-kata yang bersemayam dalam pikiranku. Hanya bagaimana jika aku mati sekarang yang dapat kudengar secara jelas. Mungkin, karena waktu itu aku masih bocah, jadi tidak begitu peduli. Sampai saat ini suara itu cukup sering kudengar, namun kali ini berbeda. Dia mengatakan: "Bunuhlah seluruh temanmu!"
Lantas aku tidak mengiyakan begitu saja... enak saja, memangnya temanku itu apa! Masa iya aku dengan mudah membunuh begitu saja.
Aku mendatangi seorang laki-laki bernama, Rusli. Dia ahli ilmu psikologi. Katanya aku hanya mengalami trauma masa kecil. Bisa dihilangkan jika aku tidak peduli atau penasaran lagi dari mana suara itu berasal. Aku juga ingat Pak Rusli bertanya padaku.
"Apa kau masih memiliki orang tua?"
Aku menjawab tidak. Dan ia masih terus berbicara perihal yang sama. Tetapi aku jujur.
Aku mulai bosan dengan ucapannya. Dalam hatiku ingin segera menyelesaikan diskusi ini. Lagipula aku sudah tidak memiliki kedua orang tua, aku sudah mandiri. Jadi buat apa semua hal yang ia pertanyakan. Aku kurang tahu, barangkali salah satu strategi Pak Rusli ketika menangani pasiennya.
Ketika selesai konsultasi, aku pamit lalu berjalan menuju pintu keluar. Sesaat kemudian dia menyarankan agar aku bisa datang ke tempatnya setiap hari senin dan kamis. Hari ini senin, jadi aku punya sisa waktu 3 hari untuk datang ke tempatnya lagi. Ketika aku membuka pintu.
"Ini pertemuan kita yang pertama. Aku harap perkembanganmu semakin bagus," katanya.
"Ya, baiklah," jawabku agak malas.
Satu hari kujalani tidak seperti biasanya hingga sampai ke hari rabu. Hari terburuk bagiku. Hari dimana aku mendapatkan kabar kalau orang yang kukenali tewas secara tragis. Aurel mantanku, ia tewas dalam keadaan tergantung di dalam kamar tidurnya. Posisi kedua kakinya terikat oleh tali. Sementara bagian anggota tubuh yang lain mulai dari pusar sampai kepala itu tidak ada, hilang, terpotong. Setelah hampir satu jam akhirnya polisi berhasil menemukan tubuh Aurel yang terpisah itu di dalam lemari es. Ketika aku bertanya kepada Polisi yang menyelidiki TKP, katanya ia belum bisa memberi keterangan lebih lanjut. Ia hanya berani menegaskan pelaku adalah psikopat. Namun, aku kurang puas dengan penjelasannya. Kemudian aku memakai nalarku sendiri.
Yeah, aku tahu. Aku kira Aurel dibunuh ketika ia terlelap dalam mimpi, lalu ia disekap oleh pelaku, kemudian tubuh Aurel dipotong dengan gergaji sebelum akhirnya mayatnya dipisahkan; diikat di kamar tidur; disimpan di dalam lemari es. Tapi siapa ya kira-kira pembunuhnya? Pikiranku pun mulai menjalar ke mana-mana.
Yeah, aku tahu. Mungkin pelaku itu ialah saudaranya sendiri, Adi, karena ia bisa dengan mudahnya keluar masuk rumah Aurel, tetapi apa benar, motif yang melandaskan Adi membunuh Aurel juga tidak ada? Apa karena sebelumnya mereka bertengkar?
Belum sempat aku berpikir kembali, tiba-tiba ada seorang polisi yang baru kulihat wajahnya--entah dari mana dia datang--untuk meminta izin melapor kepada rekannya yang sejak awal sudah ada di TKP. Polisi itu menuturkan bahwa Adi tewas yang mana adalah saudara kandung Aurel dalam keadaan menempel di pohon rambutan, dengan membentuk salib. Seluruh tubuhnya tertancap paku serta dipenuhi darah yang telah mengering. Baru diketahui setelah ada tetangga Adi yang berani melaporkan kepada polisi. Itu juga berkat anjing milik tetangga yang terus menggonggong sepanjang malam. Hanya saja si tetangga semalam tidak berani keluar rumah, ditambah situasi yang mati listrik. Akhirnya setelah menjelang pagi, ketika dirasa situasi memungkinkan, barulah si tetangga melapor ke polisi.
Mendengar penuturan Pak Polisi aku cuma manggut-manggut, tanda mengerti.
Ah, parah. . . aku benar-benar tak menduga kenapa semua ini bisa terjadi. Seperti sudah direncanakan. Aku kira Adi pelakunya, ternyata ia ikut menjadi korbannya, pikirku demikian.
Ah sial. . . Lalu aku meninju tembok sekeras-kerasnya, ku tak peduli walau kulitku terkelupas dan menjadi lecet.
"Saudara Fahmi, sebaiknya Anda istirahat saja di rumah. Tenangkan pikiran Anda dan Anda juga harus bersabar. Biarkan kami yang mengurus ini semua," kata Pak Polisi menyarankanku.
Seperti dihipnotis aku lalu menurut.
Kemudian aku pun diantarkan sampai ke depan rumahku.
Kemudian aku menyusuri kamar tidurku. Lalu aku langsung rebahan di atas kasur. Beberapa saat aku pun terlelap.
Kring Kriing!!
Panggilan telepon menyadarkanku. Kemudian dengan mata yang masih terpejam aku meraba-raba meja. Mencari handphone yang kuletakkan di atasnya. Setelah ketemu, langsung kuangkat telepon dengan mata tetap terpejam tanpa mengubah posisi awal badanku yang tengah bersandar di atas kasur.
"Kenapa kau belum datang kesini?" kata suara laki-laki dari seberang sana.
"Oh, Pak Rusli. . . ini masih malam," jawabku.
"Hei, ini sudah siang, sudah hampir jam 1."
"Apa??"
"Sekarang Kamis, apa kau lupa?"
Aku tercenung. Aku kira masih malam, ternyata sudah siang. Huh, entahlah, waktu memang begitu cepat berlalu, mulai dari pembunuhan orangtuaku ketika aku masih bocah, dan kemarin orang yang pernah kucintai mati begitu saja dan juga saudaranya, Adi.
Ya, pada kenyataannya aku tidak boleh mengeluh, karena inilah hidup. Semua hal buruk yang telah terjadi tak perlu disesali apalagi ditangisi.
"Hei!!" Teriakkan Pak Rusli menyadarkanku.
"Oh, iya-iya. . . maafkan aku, Pak. Semalam tidur kebablasan. Tubuhku lelah sekali. Untungnya ada panggilan dari Bapak yang menyadarkanku."
Kemudian dengan bergegas aku pergi ke tempat kediaman Pak Rusli.
Sesampai di sana aku berniat mendiskusikan dan berkonsultasi lagi padanya. Dan kami pun saling duduk berhadapan.
"Pak, kemarin. . .," kataku pelan. "Suara itu datang lagi."
"Lalu, apa kau menentang suara itu?"
"Tidak, Pak. Malahan aku menerima ajakkan suara itu. Suara itu juga yang telah membunuh mantan pacarku beserta saudaranya."
Pak Rusli mengangguk seraya melipat kedua tangannya.
"Bagus-bagus, dengan begini kau sudah ada perkembangan. Seiring waktu maka trauma masa kecilmu akan pudar perlahan-lahan," ujarnya.
"Sekarang bagaimana lagi, Pak. Apa aku perlu menuruti semua ajakkannya?"
"Tentu."
"Terima kasih, Pak."
Sumber gambar: ustadchandra. wordpress. com
0 Response to "Suara yang menyesatkan"
Posting Komentar